Kejujuran dan Profesionalisme

Dua hal yang harus dipenuhi dalam usaha apapun untuk mencapai tujuan yang diinginkan adalah kejujuran dan profesionalisme (keahlian dalam menjalankan tugas). Ibarat sayap keduanya merupakan satu kesatuan, saling mendukung tak terpisahkan. Bila satu hilang, perjalanan usaha akan timpang dan akan menyebabkan kecelakaan pada pihak- pihak terkait. Berbagai perusahaan atau instansi bahkan negara mengalami krisis, karena hilangnya salah satu dari kedua unsur utama tersebut. Kejujuran bagi profesionalisme ibarat ruh bagi jasad. Profesionelisme akan tampil loyo, tak bertenaga bila terus digerogoti dengan tindak kebohongan para pelakuknya. Begitu juga kejujuran tidak akan tampil secara maksimal dengan hasil yang diharapkan tanpa dukungan profesionalisme.

Allah SWT. menegakkan alam ini dengan sangat sempurna, tidak ada sedikitpun tanda bahwa Allah main-main, tergambar didalamnya nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme. Allah berfirman: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang atau cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat” (QS. 67:3-4).

Tidak hanya itu, Allah SWT. membekali setiap Nabi dengan kejujuran dan profesionalisme. Rasulullah SAW. sebelum menjadi Nabi sangat dikenal di kalangan penduduk Makkah sebagai orang yang paling jujur dan terpercaya al amin. Khadijah binti Khuwailid seorang janda kaya dan terhormat tertarik kepada Rasulullah SAW karena kejujuran dan profesionalismenya yang nampak ketika membawa dagangannya ke negeri Syam. Keuntungan berlipat ganda diperoleh berkat kedua sifat yang dimiliki Rasulullah SAW.

Pernah suatu saat orang Quraish Makkah berstegang leher sampai ketingkat kemungkinan terjadinya pertumpahan darah, dalam hal siapa yang peling berhak mengembalikan batu hitam al hajarul aswad ketempatnya semula, setelah Ka’bah direhab. Masing-masing suku merasa paling berhak. Akhirnya sampailah pada kesepakatan bahwa yang masuk pertama kali ke masjidil haram dialah yang berhak melakukan pengembalian al hajarul aswad. Ketika yang masuk pertama kali ternyata Rasulullah SAW. mereka sangat gembira. Dari mulut mereka trucap al amin radhiina (orang yang terpercaya, kami rela dan setuju). Menariknya bahwa Rasulullah SAW. melaksanakan tugas tersebut bukan sekedar karena dipercaya, melainkan ia juga tampil secara profesional, surbannya dihampar dan diisi dengan al hajarul aswad lalu minta kepada masing-masing kepala suku untuk mengangkatnya bersama-sama, dengan langkah ini semua suku puas dan merasa terpenuhi apa yang mereka perebutkan.

Nabi Yusuf as. ketika meminta agar ditempatkan sebagai penaggung jawab keuangan dan kekeyaan negara, bukan karena ia tamak untuk memenuhi kepentingan pribadi, melainkan karena ia menyadari akan kejujuran dan ruh profesionalisme yang dimilikinya. Nabi Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS. 12:55). Dari ayat ini dan ayat sebelumnya (QS. 12:46) Yusuf sebagai ash shiddiq (sangat dipercaya) dan (QS. 12:54) makinun amiin (tinggi kedudukan dan dipercaya), nampak bahwa telah tergabung dalam diri Yusuf sifat kejujuran dan profisionalisme. Suatu indikasi bahwa Yusuf yakin dengan kedua sifat ini bisa menegakkan ekonomi negerinya secara seimbang. Tidak ada yang dizdalimi. Semuanya akan meresakan sejahtera baik di masa subur maupun di masa peceklik. Dari sini jelas bahwa dalam mengatasi krisis apapun dan pada level apapun, tidak ada jalan keculai dengan menegakkan kejujuran dan profesionalisme. Wallahu a’lam bissh shawab. (Dr. Amir Faishol Fath)

Advertisements

Sekitar Masalah Kurban

Pak Ustadz, bolehkah seorang muslim yang kaya tidak berkurban? Apakah dianggap dosa jika mereka tidak berkurban? Bagaimana cara membagi hewan Kurban? Bolehkan berkurban dengan nilai uang saja tanpa menyembelih? Bolehkah seorang yang berkurban makan sebagian daging kurban tersebut? Kapan sebenarnya Ibadah Qurban menjadi wajib? Apa saja sunnah-sunnah ibadah kurban? Bolehkan berkurban untuk orang lain? Terima kasih

Jawaban 

Pertama: bahwa ibadah kurban disyariatkan oleh Allah dalam surat Al Kautsar: fashali lirabbika wanhar (maka shalatlah kamu dan berkurbanlah). Kata wanhar adalah bentuk perintah, tetapi maksudnya adalah sunnah muakkadah, menurut mayoritas madzhab fikih. Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa hukumnya wajib. Istilah wajib dalam pandangan madzhab Hanafi maksudnya sederajat di bawah fardhu. Maka sangat di makruhkan meninggalkannya bagi seorang yang mampu dan mempunyai kelebihan harta. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. sendiri menyembelih dua kambing berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Al Mundziri menyebutkan dalam kitabnya At Targhib wat tarhib sebuah riwayat yang mengandung ancaman bagi yang tidak berkurban, padahal ia mampu: man kaana lahuu sa’ah walam yudhahhi falaa yaqrabanna mushallaanaa (orang yang memiliki kemampuan tetapi ia tidak berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami) (HR. Hakim dan disahihkannya). Imam At Turmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ketika ditanya tentang hukum berkurban, menjajawab: sunnatu abiikum Ibrahim (ini sunnah ayahmu Ibrahim).

Continue reading